Secara etimologi kata “sprit” berasal dari kata Latin “spiritus”, yang diantaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam perkembangan selanjutnya kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filosuf, mengonotasian “spirit” dengan (1) kekuatan yang menganimasi dan memberi energi pada cosmos, (2) kesadaran yang berkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi, (3) makhluk immaterial, (4) wujud ideal akal pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian atau keilahian).
Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan individu menempatkan makna ibadah terhadap setiap perilaku dan tindakan. Dengan cara membersihkan atau mensucikan pikiran dan berprinsip hanya karena Allah. Perilaku dan tindakan dalam bekerja pun perlu dimaknai sebagai ibadah kepada Allah. Firman Allah dalam surat Adz Dzaariyat (51): 56, \"Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdikan diri kepada-Ku\".
Rasulullah dalam haditsnya, \"sesungguhnya Allah sangat cinta kepada orang mukmin yang bekerja\". Sebuah riwayat mengemukakan Nabi Isa diriwayatkan telah melihat seorang lelaki, langsung Baginda bertanya, \"Apakah yang anda lakukan?\" Dia menjawab, \"Saya sedang menyembah Tuhan\". Nabi Isa bertanya lagi, \"Siapakah yang memberi keperluan anda?\" Dia menjawab, \"Saudara saya\". Maka Nabi Isa menjawab, \"Saudara anda menyembah Tuhan lebih dari anda.\" (Alhabsi, 1996). Berdasarkan firman Allah, hadits Rasulullah dan riwayat Nabi Isa tersebut terdapat implikasi bahwa kerja hendaklah dimaknai sebagai ibadah kepada Allah. Kewajiban untuk mencari karunia yang halal untuk diri dan keluarga serta orang yang menjadi tanggungan. Ada tiga jenis balasan bagi orang yang kerjanya menjadi ibadah. Pertama, ia mendapat balasan dalam bentuk material.
Dalam bermuhammadiyah sebagai bagian dari beribadah dan menjalankan kekhalifahan di muka bumi ini diperlukan rujukan nilai spiritual pada ajaran tentang ihsan, di samping nilai-nilai ajaran Islam lainnya. Penulis pernah bertanya kepada Ustadz Ahmad Azhar Basyir, kalau memang Muhammadiyah berkeberatan dengan tasawuf, lantas apa yang dapat dijadikan rujukan nilai yang bersifat spiritual yang benar dan tidak salah jalan? Almarhum yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1990-1994) itu menjawab, bahwa ajaran spiritual itu ialah ihsan.
Bahwa memang berbeda dengan tasawuf yang memiliki jalan atau metode tertentu terutama dalam institusi tarekat, ajaran tentang ihsan maupun akhlak oleh sementara kalangan ahli dipandang masih bersifat nilai-nilai subsantif dan umum, tidak masuk ke wilayah epistemologis dan metodologis. Namun persoalan metode atau ath-thariqah sebagai jalan dapat didikembangkan secara lebih terbuka. Boleh jadi tasawuf sekalipun masih merupakan ranah pemikiran keislaman yang terbuka untuk dikaji ulang secara cerdas dan kritis dengan mengeliminasi elemen-elemennya yang dipandang bermasalah dari sudut aqidah Islam yang benar dan lurus. Buya Hamka bahkan mempekenalkan istilah “Tasawuf Modern”.
Konsep ihsan (al-ihsan) merujuk pada hadis Nabi ketika menjawab salah satu pertanyaan Malaikat Jibril. Ihsan, jawab Nabi, ialah an ta’budallaha kaannaka tarahu fain lam takun tarahu fainnahu yaraka, bahwa kamu menyembah Allah seakan-akan kamu milhat-Nya, jika kamu tak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu (Hadis Riwayat Muslim dari Umar bin Khattab). Substansi ihsan ialah kebaikan tertinggi yang lahir dari ruh beribadah kepada Allah dan tercermin dalam perilaku utama setiap muslim yang mengamalkannya. Dalam tradisi Islam klasik, ihsan sebenarnya dijadikan rujukan tasawuf, kendati tasawuf sendiri lebih-lebih mengenai ajaran tarekat sering menjadi bahan perdebatan pro-kontra dalam wacana keislaman hingga saat ini.
Dalam Al-Quran terdapat banyak kandungan ajaran tentang ihsan. Allah memerintahkan para hamba untuk berbuat ihsan, selain keharusan berbuat adil (QS Al-Nahl: 90). Para ahli tafsir dengan merujuk pada pendapat Ibnu Mas’ud menyebutkan ayat Al-Quran dari Surat Al-Nahl ke-90 tersebut merupakan ayat yang paling sempurna dalam penjelasan segala aspek tentang kebaikan dan keburukan. Adil dan ihsan yang diperintahkan dalam ayat ini merupakan ajaran yang luhur, utama, dan berdampak luas dalam kehidupan.
Selanjutnya, Islam juga mengajarkan agar manusia mengembangkan intelektual seluas-luasnya. Akal sedemikian penting dalam berbagai aktifitas. Banyak sekali ayat al Qur'an menyebut tentang betapa pentingnya seseorang menggunakan akalnya. Orang yang tidak menggunakan akalnya disebut bodoh. Islam mengajarkan agar kebodohan disingkirkan sejauh-jauhnya. Itulah sebabnya, islam mendorong umat manusia mengembangkan ilmu pengetahuan secara tidak terbatas, atau seluas-luasnya, dan hendaknya dilakukan sejak dari ayunan hingga masuk ke liang lahat. Dengan demikian, Islam memandang betapa pentingnya ilmu pengetahuan seharusnya dimiliki dan dikembangkan oleh siapapun. Islam melalui Al Qur'an menganjurkan agar manusia memikirkan penciptaan langit maupun bumi.
Terkait dengan konsep profesional, Islam mengajarkan tentang amal shaleh dan juga ikhsan. Beramal sama artinya dengan bekerja, sedangkan shaleh dapat dimaknai dengan tepat, sesuai, berkualitas dan atau terbaik. Bahkan Islam juga memiliki konsep ikhsan, yang artinya adalah terbaik. Tatkala memilih di antara yang baik-baik, sesuai dengan konsep ikhsan itu, maka hendaknya memilih yang terbaik. Ukuran terbaik, tentu harus dimaknai secara luas, mendalam, dan menyeluruh, yakni terbaik dalam berbagai perspektifnya.
Terkait dengan konsep profesional atau beramal shaleh, Nabi mengajarkan agar sesuatu pekerjaan hendaknya dikerjakan oleh ahlinya. Diingatkan, manakala sesuatu pekerjaan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka agar ditunggu kehancurannya. Mendasarkan pada ajaran itu, seharusnya umat Islam berusaha membiasakan untuk membangun jiwa profesionalisme, agar menghasilkan karya-karya terbaik. Islam seharusnya berhasil ditampakkan sebagai agama yang mengembangkan ketiga aspek secara seimbang, yaitu spiritual, intelektual dan sekaligus profesional.
Dalam bermuhammadiyah sebagai bagian dari beribadah dan menjalankan kekhalifahan di muka bumi ini diperlukan rujukan nilai spiritual pada ajaran tentang ihsan, di samping nilai-nilai ajaran Islam lainnya. Penulis pernah bertanya kepada Ustadz Ahmad Azhar Basyir, kalau memang Muhammadiyah berkeberatan dengan tasawuf, lantas apa yang dapat dijadikan rujukan nilai yang bersifat spiritual yang benar dan tidak salah jalan? Almarhum yang juga Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1990-1994) itu menjawab, bahwa ajaran spiritual itu ialah ihsan.
Bahwa memang berbeda dengan tasawuf yang memiliki jalan atau metode tertentu terutama dalam institusi tarekat, ajaran tentang ihsan maupun akhlak oleh sementara kalangan ahli dipandang masih bersifat nilai-nilai subsantif dan umum, tidak masuk ke wilayah epistemologis dan metodologis. Namun persoalan metode atau ath-thariqah sebagai jalan dapat didikembangkan secara lebih terbuka. Boleh jadi tasawuf sekalipun masih merupakan ranah pemikiran keislaman yang terbuka untuk dikaji ulang secara cerdas dan kritis dengan mengeliminasi elemen-elemennya yang dipandang bermasalah dari sudut aqidah Islam yang benar dan lurus. Buya Hamka bahkan mempekenalkan istilah “Tasawuf Modern”.
Konsep ihsan (al-ihsan) merujuk pada hadis Nabi ketika menjawab salah satu pertanyaan Malaikat Jibril. Ihsan, jawab Nabi, ialah an ta’budallaha kaannaka tarahu fain lam takun tarahu fainnahu yaraka, bahwa kamu menyembah Allah seakan-akan kamu milhat-Nya, jika kamu tak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu (Hadis Riwayat Muslim dari Umar bin Khattab). Substansi ihsan ialah kebaikan tertinggi yang lahir dari ruh beribadah kepada Allah dan tercermin dalam perilaku utama setiap muslim yang mengamalkannya. Dalam tradisi Islam klasik, ihsan sebenarnya dijadikan rujukan tasawuf, kendati tasawuf sendiri lebih-lebih mengenai ajaran tarekat sering menjadi bahan perdebatan pro-kontra dalam wacana keislaman hingga saat ini.
Dalam Al-Quran terdapat banyak kandungan ajaran tentang ihsan. Allah memerintahkan para hamba untuk berbuat ihsan, selain keharusan berbuat adil (QS Al-Nahl: 90). Para ahli tafsir dengan merujuk pada pendapat Ibnu Mas’ud menyebutkan ayat Al-Quran dari Surat Al-Nahl ke-90 tersebut merupakan ayat yang paling sempurna dalam penjelasan segala aspek tentang kebaikan dan keburukan. Adil dan ihsan yang diperintahkan dalam ayat ini merupakan ajaran yang luhur, utama, dan berdampak luas dalam kehidupan.
Selanjutnya, Islam juga mengajarkan agar manusia mengembangkan intelektual seluas-luasnya. Akal sedemikian penting dalam berbagai aktifitas. Banyak sekali ayat al Qur'an menyebut tentang betapa pentingnya seseorang menggunakan akalnya. Orang yang tidak menggunakan akalnya disebut bodoh. Islam mengajarkan agar kebodohan disingkirkan sejauh-jauhnya. Itulah sebabnya, islam mendorong umat manusia mengembangkan ilmu pengetahuan secara tidak terbatas, atau seluas-luasnya, dan hendaknya dilakukan sejak dari ayunan hingga masuk ke liang lahat. Dengan demikian, Islam memandang betapa pentingnya ilmu pengetahuan seharusnya dimiliki dan dikembangkan oleh siapapun. Islam melalui Al Qur'an menganjurkan agar manusia memikirkan penciptaan langit maupun bumi.
Terkait dengan konsep profesional, Islam mengajarkan tentang amal shaleh dan juga ikhsan. Beramal sama artinya dengan bekerja, sedangkan shaleh dapat dimaknai dengan tepat, sesuai, berkualitas dan atau terbaik. Bahkan Islam juga memiliki konsep ikhsan, yang artinya adalah terbaik. Tatkala memilih di antara yang baik-baik, sesuai dengan konsep ikhsan itu, maka hendaknya memilih yang terbaik. Ukuran terbaik, tentu harus dimaknai secara luas, mendalam, dan menyeluruh, yakni terbaik dalam berbagai perspektifnya.
Terkait dengan konsep profesional atau beramal shaleh, Nabi mengajarkan agar sesuatu pekerjaan hendaknya dikerjakan oleh ahlinya. Diingatkan, manakala sesuatu pekerjaan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka agar ditunggu kehancurannya. Mendasarkan pada ajaran itu, seharusnya umat Islam berusaha membiasakan untuk membangun jiwa profesionalisme, agar menghasilkan karya-karya terbaik. Islam seharusnya berhasil ditampakkan sebagai agama yang mengembangkan ketiga aspek secara seimbang, yaitu spiritual, intelektual dan sekaligus profesional.
Komentar
Posting Komentar